Satuimpresi.com – Sebuah insiden tragis merenggut nyawa Yuferon Baitanu, penyelam muda dan tulang punggung keluarga. Yuferon meninggal pada April 2025 setelah menyelam di perairan Rote. Kejadian ini memunculkan pertanyaan serius mengenai standar operasional dan prosedur keselamatan di lokasi tersebut. Yuferon, yang selama ini sehat dan bugar, tiba-tiba kehilangan nyawanya dalam aktivitas yang seharusnya aman.
Penyelaman Fatal Bersama Pemilik Resort
Yuferon menyelam bersama Erasmus Frans Mandato, pemilik Anugerah Dive Resort sekaligus Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) NTT. Kehadiran pemilik resort dalam penyelaman tersebut seharusnya menjamin pengawasan dan keselamatan maksimal. Namun setelah menyelam, Yuferon dilaporkan mengalami keluhan kesehatan. Fakta kematian Yuferon justru memicu kecurigaan, mengindikasikan celah serius dalam penerapan prosedur keselamatan.
Kerabat korban yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa saat penyelaman, Yuferon “menabrak arus air tawar.” Istilah ini diyakini merujuk pada fenomena termoklin atau pertemuan arus dengan perbedaan densitas yang bisa memicu disorientasi atau stres fisiologis pada penyelam.
Kondisi almarhum disebut memburuk selama kurang lebih dua bulan pasca penyelaman. Ia sempat mendapatkan penanganan medis, namun setelah beberapa waktu, keadaan terus menurun hingga akhirnya Yuferon menghembuskan napas terakhirnya.
Dari informasi yang beredar terkait insiden ini, keluarga menduga alat yang dipakai diving menjadi penyebab almarhum sakit setelah terakhir diving. Namun di tengah kondisi yang terus memburuk, pihak keluarga mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, selama ini almarhum Yuferon bekerja di Anugerah Hotel. Posisi tersebut dinilai membuat keluarga berada dalam situasi yang serba sulit untuk mengambil langkah lebih lanjut.
Yuferon dikenal sebagai sosok yang sangat diandalkan keluarganya. Kepergian Yuferon meninggalkan duka mendalam dan kekosongan besar bagi orang-orang terdekatnya. Lebih lanjut, peristiwa ini juga memperlihatkan bahwa bahkan individu dengan kondisi fisik prima dapat menjadi korban jika operator mengabaikan atau tidak menjalankan aspek keselamatan.
Dugaan Indikasi Kegagalan Sistemik
Insiden ini lebih dari sekadar kecelakaan. Sesungguhnya, peristiwa ini mencerminkan potensi kegagalan sistemik dalam pemeliharaan alat selam dan penerapan protokol keselamatan penyelam. Ketika seorang penyelam meninggal di bawah pengawasan langsung pemilik resort yang juga memimpin organisasi olahraga air, operator jelas menunjukkan kelalaian serius. Oleh karena itu, resort yang menawarkan aktivitas selam harus menempatkan keselamatan tamu sebagai prioritas utama. Hal ini meliputi memastikan peralatan berfungsi baik, instruktur kompeten, dan prosedur darurat berjalan efektif.
Tuntutan Transparansi dan Akuntabilitas
Menyusul kejadian tragis tersebut, publik menuntut penjelasan transparan dari Anugerah Dive Resort mengenai kronologi kejadian. Apa sebenarnya yang terjadi di bawah air? Apakah peralatan gagal berfungsi? Atau justru operator lalai menjalankan tugas dan tanggung jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab jujur untuk mencegah insiden serupa terulang di masa depan. Lebih lanjut, kematian Yuferon harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh operator wisata selam, khususnya di Nusa Tenggara Timur, untuk mengevaluasi dan memperketat setiap aspek keselamatan.
Sejalan dengan tuntutan ini, pemerintah daerah dan pihak berwenang diharapkan segera melakukan investigasi menyeluruh. Mereka tidak boleh hanya berhenti pada laporan. Justru, mereka harus memastikan akuntabilitas jelas dan mengambil langkah-langkah korektif konkret. Keluarga Yuferon berhak mendapatkan keadilan, dan masyarakat luas berhak tahu bahwa kegiatan wisata yang mereka ikuti memenuhi standar keselamatan tertinggi. Tanpa transparansi dan tindakan tegas, insiden tragis seperti ini berisiko mencoreng citra pariwisata bahari Indonesia. Pada akhirnya, resort memikul tanggung jawab moral dan hukum untuk melindungi setiap individu yang mempercayakan keselamatan mereka kepada operator.

