Belajar Keberanian dari ARAH EduCare: Ketika Langkah Kecil Tak Perlu Menunggu Sempurna

Alumni Beasiswa Amartha Cendekia
Inisiator ARAH EduCare

“Dunia tidak membutuhkan kamu yang sempurna. Dunia membutuhkan kamu yang hadir, berani, dan mau belajar dari realitas.”

Kalimat dari seorang mentor bernama Kak Mila itu terus terngiang di benak lima anak muda inisiator ARAH EduCare. Di awal perjalanan, mereka sempat dibayangi anggapan bahwa sebuah program prototype harus langsung membuahkan perubahan berskala besar; jumlah siswa harus melimpah, jadwal belajar harus sempurna, tutor selalu siap setiap saat, dan seluruh sistem otomatis berjalan lancar tanpa kendala.

Namun, realitas di lapangan mengajarkan hal lain. Prototype ternyata bukan tentang mengejar kesempurnaan sejak langkah pertama, melainkan keberanian untuk memulai, menguji gagasan, menerima masukan, dan terus bertumbuh dari setiap prosesnya.

Pertemuan Unik dari Kantor Pusat hingga Bogor

Awal Mula Para Inisiator ARAH EduCare Bertemu
Awal Mula Para Inisiator ARAH EduCare Bertemu (sumber: Istimewa)

Sinergi ini bermula dari sebuah pertemuan yang tak pernah dirancang sebelumnya. Kelima anak muda ini merupakan sesama alumni penerima Beasiswa Amartha Cendekia dari jenjang sekolah menengah atas yang berasal dari angkatan, daerah, dan latar belakang yang berbeda.

Takdir mempertemukan mereka kembali ketika Amartha menggelar Amartha Fellowship Bootcamp, sebuah program gabungan bagi alumni beasiswa Amartha Cendekia dan awardee Beasiswa Amartha STEAM Fellowship untuk belajar bersama serta merancang solusi atas persoalan sosial.

Baca juga: Edukasi Manajemen Keuangan Sederhana, Kelompok KPPM STIE WIKARA Desa Pawenang Sosialiasasi Kepada Pelaku UMKM

Beruntung, mereka menjadi bagian dari alumni yang terpilih untuk mengikuti pelatihan secara tatap muka (offline) melalui program fully funded, di mana seluruh biaya transportasi. Mulai dari tiket pesawat hingga kereta api yang ditanggung sepenuhnya oleh penyelenggara.

Titik kumpul pertama dimulai dari Kantor Pusat Amartha di Jakarta. Rasa canggung dan obrolan ringan mewarnai pertemuan awal antaranggota kelompok yang sebagian besar belum saling mengenal tersebut. Dari Jakarta, seluruh peserta kemudian diberangkatkan menuju Bogor menggunakan armada bus. Di sepanjang perjalanan itulah, rasa canggung perlahan mencair dan berubah menjadi benih kolaborasi.

Menyelami Realitas Lewat Iceberg Analysis dan Theory U

Selama agenda pelatihan di Bogor, mereka dibekali kerangka berpikir analitis untuk membedah masalah sosial. Melalui pendekatan Iceberg Analysis, peserta diajak melihat bahwa sebuah persoalan tidak cukup dinilai dari apa yang tampak di permukaan, melainkan harus digali hingga ke pola, struktur, dan pola pikir (mindset) yang melatarbelakanginya.

Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan pendekatan Theory U, sebuah metode yang menekankan pentingnya proses mendengarkan, merasakan (sensing), memahami sistem secara menyeluruh, hingga akhirnya menghadirkan solusi yang benar-benar berakar dari kebutuhan riil masyarakat.

Baca Juga: Sukses! Mahasiswa Analisis Kimia IPB University Gelar Sosiolisasi Pemanfaatan Buah Lerak Sebagai Sabun Cair Alami di SMAN 4 Kota BOGOR

Metodologi tersebut langsung diuji ketika mereka diterjunkan melakukan kegiatan sensing ke desa-desa di sekitar Bogor. Tanpa membawa prasangka atau solusi instan, mereka datang murni untuk mendengar cerita dan dinamika kehidupan warga setempat. Dari pengalaman tersebut, muncul kesadaran bahwa perubahan sosial tidak bisa didasarkan atas asumsi sepihak, melainkan dari keberanian untuk hadir secara nyata.

Kelahiran ARAH EduCare dan Dinamika di Balik Layar

Usai rangkaian kegiatan di Bogor, para peserta kembali ke kota masing-masing dengan membawa dorongan moral agar materi pelatihan tidak menguap begitu saja menjadi sekadar agenda liburan. Dari berbagai keresahan dan ide dampak sosial yang diusulkan oleh anggota kelompok, mereka menggelar diskusi intensif hingga proses pemungutan suara (voting).

Hasil kesepakatan menunjuk gagasan milik Imroatus Salamah untuk dikembangkan menjadi program nyata. Dari sanalah ARAH EduCare lahir sebagai prototype pendampingan belajar daring gratis bagi anak-anak Sekolah Dasar (SD).

Amartha Fellowship Bootcamp
Amartha Fellowship Bootcamp (sumber: Istimewa)

Program ini dikembangkan secara kolektif oleh lima alumni Beasiswa Amartha Cendekia dari berbagai perguruan tinggi:

  • Imroatus Salamah (Case Owner – Universitas Jember)

  • Ahmad Fairuz A. (Universitas Malikussaleh)

  • Sintia Febriyanti (Institut Teknologi dan Ilmu Sosial Khatulistiwa)

  • Dila Sri Istiqomah (Universitas Pendidikan Indonesia)

  • Amalia Citra Nuzaira (IPMI International Business School)

Meskipun tidak mengandalkan pembagian struktur kerja yang kaku, kelimanya saling melengkapi dalam mengelola operasional program. Mulai dari pemetaan kebutuhan belajar siswa, penyusunan modul pembelajaran, pembukaan pendaftaran tutor relawan dan peserta didik, pencocokan (matching) tutor dengan mata pelajaran, pengaturan jadwal, hingga koordinasi dengan orang tua murid serta pelaksanaan evaluasi berkala.

Onboarding ARAH EduCare
Onboarding ARAH EduCare (sumber: tangkapan layar redaksi)

Di balik setiap kelas daring yang berhasil terlaksana, terdapat kerja keras yang jarang terlihat di layar Zoom: diskusi tim hingga larut malam, penyesuaian jadwal yang fleksibel, komunikasi intensif dengan para orang tua, hingga evaluasi rutin seusai sesi pembelajaran.

Perpisahan Emosional dan Resonansi Dampak

Kini, masa operasional prototype ARAH EduCare telah resmi berakhir. Penutupan program diwarnai suasana emosional bagi seluruh jajaran inisiator, tutor relawan, maupun peserta didik. Rasa bangga karena berhasil menuntaskan program berbaur dengan rasa haru dan sedih karena harus mengakhiri rutinitas pertemuan mingguan di layar Zoom.

Melalui perjalanan ini, tim ARAH EduCare menarik pelajaran penting bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan adalah upaya membangun rasa percaya diri, memantik keberanian anak untuk bertanya, serta menciptakan ruang belajar yang inklusif di mana setiap anak merasa didengar dan dihargai.

Dampak program pun tidak selalu diukur dari angka semata, melainkan hadir lewat momen-momen kecil, seperti sapaan hangat di awal kelas, tawa riang di tengah pembelajaran, hingga ucapan “Terima kasih, Kak” yang tulus dari para siswa di akhir sesi.

Meski prototype ini telah purna, para penggagasnya meyakini bahwa semangat ARAH EduCare akan terus hidup. Langkah awal dari lima orang yang semula tak saling kenal ini menjadi bukti bahwa sebuah gagasan tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai memberi dampak bagi pendidikan di Indonesia.

Tonton selengkapnya: Amartha Fellowship Boothcamp 2026

Bagikan: Belajar Keberanian dari ARAH EduCare: Ketika Langkah Kecil Tak Perlu Menunggu Sempurna